Slider Post
Filtered Label Post
Baca Juga

Single: Film Raditya Dika yang Menggugah Hati dan Menghibur dengan Kisah Cinta yang Relatable

Film SINGLE karya Raditya Dika hadir sebagai salah satu karya terbaiknya yang lepas dari tradisi adaptasi buku. Berbeda dengan Kambing Jantan yang menjadi debutnya atau Marmut Merah Jambu, film ini berbicara tentang hal yang berbeda. Karakter utamanya memperkenalkan sosok yang sekilas mirip dengan karakter Miko dalam serial Malam Minggu Miko.

Mengikuti jejak Malam Minggu Miko dan Cinta dalam Kardus, film ini kembali mengangkat peliknya kisah cinta dengan latar belakang dunia stand-up comedy yang disisipkan khas gaya Raditya Dika. Namun, SINGLE tidak hanya berbicara soal cinta yang dibalut komedi. Film ini juga menyoroti bagaimana seseorang bisa mengecewakan orang-orang yang disayangi, serta bagaimana karakter utama mencari arti sebuah cinta yang sempat hilang dalam hidupnya.

Ebi dan Dilema Luka Masa Lalu

Cerita berpusat pada seorang cowok bernama Ebi (Raditya Dika) yang sangat naif, bahkan untuk urusan uang kost pun masih harus meminta kepada ibunya. Ebi memiliki kesulitan besar untuk mendekati perempuan karena selalu canggung dan susah memulai obrolan. Hal ini kemungkinan dipicu oleh latar belakangnya yang sejak sang ayah meninggal lebih sering menemani ibunya ke mana-mana, sehingga ia jarang bersosialisasi.

Ebi tinggal di sebuah rumah kost bersama dua sahabatnya yang absurd: Wawan (Pandji Pragiwaksono) dan Viktor (Babe Cabita). Wawan adalah tipe orang yang sok tahu soal hubungan asmara, meskipun ia sendiri tidak menyadari bahwa kekasihnya, Wini, berselingkuh di belakangnya. Sementara Viktor adalah sosok penakut yang terlalu percaya pada hal-hal mistis dan sangat penurut pada orang tuanya, hingga pasrah saat dijodohkan.

Meskipun kedua sahabat ini selalu memberikan ide-ide absurd yang membuat Ebi pusing demi mencarikannya pacar, Ebi tetap menghadapi keraguannya dengan sifatnya yang cuek. Sejelek-jeleknya sifat sahabat, mereka tetaplah orang yang selalu ada untuk membantunya.

Pencarian Cinta yang Penuh Kekonyolan

Konflik film dimulai dengan cukup relate dan mengundang gelak tawa. Salah satunya adalah adegan di dalam mobil saat Ebi, Wawan, dan Viktor bertemu dengan teman SMA Ebi yang dikira akan mengajaknya berkencan, namun ternyata justru memberi tahu bahwa dia sudah menikah.

Pencarian cinta berlanjut saat mereka mencoba menggoda perempuan di sebuah bar. Ebi bahkan berpura-pura menjadi orang kaya dengan mentraktir minuman demi mendapatkan nomor telepon seorang perempuan bernama Laras. Sayangnya, kepolosan Ebi malah membuatnya menelepon Laras pada jam 2 pagi hanya untuk bertanya hal canggung seperti, "Nama kamu siapa?" dan "Sudah makan?", yang akhirnya membuat obrolan ditutup begitu saja.

Ketika hampir menyerah, Ebi bertemu dengan Angel, penghuni baru di kamar kost nomor 1. Ebi mulai memberanikan diri untuk mengenal Angel. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, mulai dari makan nasi goreng hingga bercanda. Namun, muncul penghalang bernama Joe (Chandra Liow), pria kaya lulusan Belanda yang mengaku sebagai kakak Angel dan mulai mengancam Ebi agar menjauh. Meskipun harus berhadapan dengan Joe yang selalu menghalangi, Ebi tetap berusaha mengejar Angel secara jujur dan adil.

Puncak Konflik di Bali

Ketegangan meningkat ketika Ebi mengajak Angel ke Bali untuk menghadiri persiapan pernikahan adiknya, Alva. Di sana, Joe kembali muncul tanpa diundang, membuat Ebi semakin tertekan. Demi menarik perhatian Angel, Ebi bahkan melakukan hal nekat dengan terjun dari pesawat.

Wawan dan Viktor mencoba membantu dengan menulis surat cinta untuk Angel. Namun, Angel ternyata lebih menyukai kejujuran langsung daripada sebuah surat. Saat Ebi mencoba mengambil kembali surat itu di kamar Angel, ia justru tidak sengaja merobek surat penting milik ibu Angel, Bu Marjan, yang menderita lupa ingatan jangka panjang.

Surat cinta buatan sahabatnya itu akhirnya jatuh ke tangan Joe, menyebabkan hubungan Ebi dan Angel retak. Angel pergi, dan Ebi memilih kembali ke Jakarta dengan perasaan hancur. Di Jakarta, ia melampiaskan rasa kecewanya melalui stand-up comedy, meskipun ia sempat gagal dalam penampilan televisi pertamanya.

Resolusi: Pentingnya Menjadi Diri Sendiri

Hubungan persahabatan Ebi, Wawan, dan Viktor sempat merenggang akibat rangkaian kejadian ini. Namun, Ebi akhirnya menyadari bahwa persahabatan jauh lebih penting daripada memaksakan sebuah cinta. Ia kembali ke kost dan bersama Viktor menghadiri acara peluncuran buku Wawan. Di acara tersebut, Ebi kembali tampil stand-up dan sukses besar membuat penonton tertawa.

Penampilan sukses Ebi di televisi ternyata dilihat oleh Bu Marjan. Ibu Angel yang menderita lupa ingatan itu tiba-tiba mengenali wajah Ebi di layar kaca. Hal ini menyadarkan Angel bahwa Ebi adalah orang baik yang tidak bermaksud menyakitinya.

Pada resepsi pernikahan Alva, Angel datang dan Ebi meminta maaf. Angel justru berterima kasih karena kecerobohan Ebi sebelumnya malah membantu ibunya mengingat kembali. Meskipun mereka tidak ditunjukkan resmi berpacaran, adegan terakhir yang memperlihatkan mereka saling bertatap-tatapan menyuguhkan pemandangan indah yang menjadi penutup manis dengan latar belakang Bali dan Jakarta.

Kekuatan Lagu dan Pesan Film

Film ini ditutup dengan meriah oleh pernikahan Alva yang menampilkan grup musik D’Masiv. Namun, kekuatan emosional film ini juga didukung kuat oleh lagu dari Geisha yang mampu membawa penonton masuk ke dalam rasa galau yang mendalam melalui liriknya yang berbunyi:

Ajarkan aku tuk bisa dapat ungkapkan rasa Agar kamu kan percaya begitu ku butuh cinta Ajarkan aku tuk bisa dapat merangkai kata Agar kamu kan dengarkan bibirku katakan cinta sekarang

Kesimpulan

Secara keseluruhan, SINGLE memberikan pesan penting yang sangat berkesan bagi penonton. Film ini membuat sadar bahwa cinta memang tidak harus dipaksakan, dan terkadang cinta bisa saja datang di saat yang tidak tepat. Hal terpenting yang bisa diambil adalah tidak perlu memedulikan bagaimana penampilan kita di depan orang yang disukai, karena menjadi diri sendiri adalah hal yang utama.

Sebagai penutup, salah satu materi stand-up Ebi saat ia sukses menjadi komedian terkenal bisa menjadi kutipan yang sangat pas untuk merenungkan arti hubungan:

"Kadang saat kita jatuh cinta IQ kita bisa turun 10 poin, tapi sebodoh-bodohnya kita dalam cinta, kita harus tahu saat jatuh cinta pada seseorang itu cuma penasaran atau suka beneran."

Posting Komentar

Kolom Opini