Bagi para penonton yang mengikuti perjalanan skena kreator konten YouTube sejak lama, kehadiran film Bucin tentu menjadi salah satu perilisan yang paling dinantikan. Sejak akhir film Modus, Andovi da Lopez sempat memberikan bocoran bahwa perjalanan mereka akan berlanjut ke proyek bertajuk Bucin alias Budak Cinta.
Kondisi tersebut melahirkan gelombang antusiasme yang sangat besar di masyarakat. Riuhnya proses produksi hingga promosi sempat membuat ekspektasi publik melambung tinggi terhadap film debutan sutradara Chandra Liow ini, meskipun penonton harus menerima hilangnya barisan karakter pendukung dari film Modus seperti Reza Oktovian, Marlo Ernesto, Rayi Putra, dan Kemal Palevi. Jovial da Lopez selaku penulis skenario tampaknya sengaja merancang film ini sebagai sebuah karya yang berdiri sendiri (stand-alone), terlepas dari bayang-bayang film pendahulunya.
Kemasan Teknis yang Megah vs Kedalaman Cerita
Dari aspek visual, Bucin merupakan sebuah karya yang sangat memanjakan mata. Keahlian Chandra Liow dalam mengolah sisi teknis terlihat jelas melalui kualitas pengambilan gambar yang dinamis, penataan warna (color grading) yang estetik, serta proses penyuntingan (editing) yang sangat nyaman untuk diikuti.
Namun selayaknya sebuah film, keindahan visual idealnya berjalan beriringan dengan kekuatan narasi. Di sinilah letak titik lemahnya. Dari segi cerita dan akting, film ini terasa setengah-setengah. Alih-alih melihat sebuah seni peran yang matang, penonton seolah-olah disuguhkan penampilan biasa dari para YouTuber papan atas yang sedang memainkan diri mereka sendiri. Fokus film yang terlalu menonjolkan persona asli para kreatornya membuat penonton sulit masuk ke dalam dimensi cerita dan karakter yang sesungguhnya.
Dinamika Karakter dan Pergeseran Sifat
Narasi film berpusat pada empat karakter utama: Jovial, Andovi, Tommy, dan Chandra. Uniknya, dari keempat orang ini, hanya Chandra yang tidak memiliki pasangan dan tidak berada dalam kondisi budak cinta.
Jovial da Lopez: Karakternya tidak banyak berubah dari apa yang ia tampilkan di film sebelumnya. Ia tetap membawa persona pria yang tampak tenang, sok misterius, dengan tipikal cowok menyebalkan namun sebenarnya memiliki sisi yang baik.
Tommy Limm: Penampilan Tommy hadir sebagai penyelamat di dalam film ini. Selain memiliki waktu komedi yang tepat dan mampu melebur dengan baik bersama lawan mainnya, perubahan karakter Tommy dari sosok yang dahulu terlalu mempermasalahkan fengshui menjadi pribadi yang baru di film ini terasa sangat menghibur dan memberikan kenyamanan tersendiri di setiap adegannya.
Andovi da Lopez: Perubahan karakter Andovi justru menjadi salah satu poin yang paling terasa canggung. Di film pendahulunya, Andovi adalah sosok sentral yang optimistis dan jenaka saat mengejar cinta. Namun di film ini, ia bertransformasi menjadi pria yang terlalu tunduk pada pasangannya dan seolah tidak bahagia dengan hubungannya sendiri. Interaksinya dengan karakter Kirana di beberapa adegan terasa terlalu dipaksakan.
Chandra Liow: Kehadiran Chandra di depan layar terasa hanya sebagai penghias cerita saja, tanpa memiliki pengaruh yang cukup kuat untuk mengisi kekosongan posisi yang ditinggalkan oleh Reza Oktovian. Salah satu bagian yang kurang efektif adalah pengulangan kalimat perihal dirinya sebagai seorang ahli ruang pelarian yang dirasa kurang perlu untuk terus dijelaskan.
Alur 30 Menit Awal dan Distraksi Tokoh Wanita
Paruh awal durasi film sempat membingungkan mengenai ke mana arah konflik sebenarnya ingin dibawa. Rentetan lelucon di 30 menit pertama terasa kurang padat, meskipun penonton yang jeli sudah bisa mengendus adanya potensi kejutan (plot twist) di akhir cerita sejak Jovial melontarkan kalimat pembuka tentang ajakan mengikuti kelas anti-bucin dari seseorang di media sosial.
Kehadiran karakter Vania (Susan Sameh) di awal cerita juga terasa cukup mendistraksi karena pembawaannya yang sangat menonjol dan kontras dibandingkan karakter wanita lainnya—seperti Julia tunangan Tommy, atau Chila kekasih Jovial. Perubahan impresif juga terlihat pada karakter Kirana yang kini dimainkan oleh Widika Sidmore. Berbeda total dengan penggambaran Kirana versi Melayu Nicole yang tampak lugu dan polos, Kirana versi baru ini tampil dengan watak yang cenderung mendominasi dan tegas (bossy).
Parade Cameo dan Refleksi Pesan Film
Sebagai sebuah film yang lahir dari komunitas kreator digital, Bucin diramaikan oleh kehadiran deretan pesohor YouTube sebagai pelaku adegan singkat (cameo), mulai dari JWest Bros, Kyra Nayda, Anderu Bionty, hingga Step by Step ID. Atmosfer ini seketika membawa ingatan penonton pada era keemasan film-film YouTuber beberapa tahun silam. Di luar itu, kemunculan selebriti senior seperti Deddy Corbuzier dan Gading Marten ditempatkan dengan sangat cerdas dan berhasil memberikan unsur komedi yang segar.
Di balik segala kekurangan dan kelebihannya, film yang pada akhirnya didistribusikan melalui platform streaming Netflix ini menyimpan beberapa kalimat reflektif yang cukup bagus untuk dijadikan sebuah pijakan berpikir, di antaranya:
Gue tau, mau gue apa
Cinta itu memaafkan
Kesimpulan
Secara keseluruhan, Bucin adalah sebuah film yang berada di posisi tanggung. Ambisi besar Chandra Liow dalam menyajikan estetika visual kelas atas patut diapresiasi, namun sayangnya ia kurang berhasil dalam mengarahkan kedalaman akting karakternya sendiri serta Andovi agar keluar dari persona YouTube mereka. Bagi para pengguna layanan Netflix yang menyukai tontonan komedi ringan bertema hubungan asmara, film ini tetap menjadi sebuah opsi hiburan yang cukup bisa dinikmati di waktu senggang, terlepas dari segala potensi besarnya yang seharusnya bisa dieksekusi jauh lebih maksimal.





Posting Komentar