Rasanya belum lama, ya, padahal sudah tujuh tahun lebih sejak satu lagu folk-pop sederhana berhasil jadi soundtrack patah hati banyak orang. Di akhir 2017, lagu "L" dari musisi asal Bandung, halstage, tiba-tiba muncul dan seolah berbicara langsung pada kita; mereka yang terjebak dalam penantian, yang hanya bisa menyimpan rasa.
Kini, dengan ratusan juta pemutaran, lagu itu dan "pasangannya" telah menjadi teman setia, kala rasa galau melanda. Yuk, kita putar ulang perjalanan halstage lewat dua lagunya yang cukup fenomenal kala itu.
Sakitnya Nunggu di Lagu 'L'
"L" mungkin potret tentang betapa menyebalkannya mencintai seseorang namun gak sanggup mengungkapkan rasa. halstage menangkap perasaan itu dengan begitu gamblang dalam liriknya:
Selalu aku lihat belakang punggungmu di saat kau lihat belakang punggung pria lain, menunggu kau menoleh dan berlari ke arahku dan memelukku seerat-eratnya.
Lirik ini langsung mengingatkan kita ke posisi itu: melihat dia yang kita sayang berada di pelukan orang lain yang ia cintai. Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu dan berharap kalau saja hubungan mereka kandas, ada celah untuk kita masuk. Hingga akhirnya kita sadar kalau kita gak ke mana-mana. Stagnan dan membuang waktu hanya karena menunggu sesuatu yang tak pasti.
Sungguh tak terasa, sudah tujuh tahun habiskan masa mudaku. Hanya untuk membuatmu terkesan kepadaku, begitu bodohnya aku.
Dengan lebih dari 370 juta pemutaran di Spotify, lagu ini jelas bukan lagi sekadar lagu, tapi sudah seperti arsip perasaan patah hati yang getir.
Leganya Merelakan dengan 'Terima Kasih'
Kalau "L" adalah luka, maka "Terima Kasih" adalah obatnya. Lagu ini memberikan kita sebuah closure. Kerasa, kan? Perasaan suka sama seseorang, tapi dianya sudah jadi milik orang lain. Sama persis seperti cerita di lagu "L". Bedanya, dalam "Terima Kasih", kita diajarkan untuk mengikhlaskan dan merelakan.
Kepadamu dulu aku jatuh cinta, menanam asa bisa bersama sepanjang usia, saat itu engkau di tepian kota, aku masih sendiri kau sudah jadi miliknya.
Penerimaan itu mencapai puncaknya di bagian refrain yang bikin kita lega:
Terima kasih atas segala rasa, pada hari itu pun aku turut bahagia, karena aku selalu tahu, menyukaimu bukan berarti selalu memilikimu.
Dan setelah kita berhasil merelakan, hidup pun berjalan. Kita bertemu orang baru, sedangkan dia yang dulu sempat ada di hati, kembali sendiri.
Yang terhebat dari waktu adalah karena ia terus berputar secara sederhana, kita kembali bertemu di tepian kota, engkau sendiri lagi dan aku sudah berdua.
Gak heran kalau 'Terima Kasih' sudah diputar lebih dari 209 juta kali.
Jujur dan Apa Adanya
Kenapa dua lagu ini bisa sekuat itu? Resepnya mungkin ada di kesederhanaan dan kejujurannya. halstage gak butuh musik yang ribet. Cukup gitar dan suara yang tulus, liriknya langsung jadi pemeran utama. Dia membuktikan kalau cerita yang jujur gak perlu banyak polesan untuk sampai ke hati pendengar nya.
Kisah-Kisah Baru Setelahnya
Tentu saja, halstage bukan one-hit wonder. Setelah EP Perspektif, ia terus berkarya dan menunjukkan kematangannya sebagai penulis. Kalau dulu temanya tentang patah hati yang jelas, lagu-lagu barunya mengeksplorasi perasaan yang lebih abu-abu, seperti di lagu "Pendengar Setiamu", yang bercerita tentang friendzone yang penuh keraguan:
Inginku mengaku padamu, bahwa kumulai menyukaimu, namun selalu bertemu ragu... maka simpan dalam rasaku, puas sebatas jadi pendengar setiamu.
Sebuah hubungan yang dekat namun tanpa status, sakit tapi telanjur terjadi.
Menanti Babak Selanjutnya
Tujuh tahun lebih setelah "L", halstage sudah membuktikan dirinya sebagai salah satu pencerita ulung dalam lirik yang ia tuliskan. Karyanya jadi bukti kalau kejujuran akan selalu punya tempat. Sekarang, kita sebagai pendengar setianya, tentu berharap dan menunggu babak selanjutnya: sebuah album atau EP yang mungkin akan kembali jadi soundtrack untuk fase hidup kita yang baru.
Catatan Tambahan & Diskografi Penting
Untuk melengkapi cerita di atas, berikut adalah beberapa detail penting dari perjalanan musik halstage yang sayang untuk dilewatkan.
Tracklist EP 'Perspektif' (2018): EP ini dirilis secara bertahap dan menjadi rumah bagi dua lagu fenomenalnya. Isinya adalah:
L
Terima Kasih
Diskografi Pilihan Setelah EP 'Perspektif': halstage sangat produktif merilis single. Selain "Pendengar Setiamu", beberapa karyanya yang lain dan patut didengarkan antara lain:
Di Sore Hari yang Cerah (sebuah kolaborasi bersama Videmarsha)
Posting Komentar